Setiap minggu, grup WhatsApp wali kelas anak gue isinya hampir selalu sama: obrolan soal les. Ada yang tanya rekomendasi tempat les matematika, ada yang share promo bimbel, ada juga yang curhat soal biaya yang makin naik. Di sisi lain, ada orang tua yang ngotot kalau anaknya cukup belajar sendiri di rumah. Dua kubu ini sama-sama yakin pilihannya yang paling benar.
Gue dan istri sempat ada di posisi bingung itu. Anak pertama kami masuk SD, dan tiba-tiba aja muncul pertanyaan: les atau nggak? Kami tinggal di apartemen kecil di Jakarta Timur, budget ketat, waktu terbatas, dan anak kami belum tentu betah duduk diam selama satu jam. Jadi kami coba dua-duanya. Hasilnya? Nggak sesederhana yang orang bilang.
Duitnya Beda Jauh, Tapi Jangan Cuma Lihat Angka
Kalau ngomongin biaya, les jelas lebih mahal. Les privat di kota besar bisa Rp150 ribu sampai Rp300 ribu per sesi. Kalau seminggu dua kali, sebulan sudah hampir dua juta. Bimbel kelompok memang lebih murah, tapi tetap aja masuk hitungan pengeluaran serius buat keluarga kecil.
Tapi belajar sendiri juga nggak benar-benar gratis. Kami beli buku latihan, kuota internet buat video pembelajaran, dan yang paling mahal: waktu orang tua. Gue harus duduk nemenin anak belajar hampir tiap malam, dan itu artinya kerjaan gue yang lain ketunda. Jadi kalau ada yang bilang "belajar sendiri kan gratis", menurut gue itu kurang jujur. Ada biaya tersembunyi yang jarang dihitung.
Yang penting di sini bukan mana yang lebih murah, tapi mana yang biayanya sepadan. Les mahal tapi kalau anaknya jadi paham dan orang tua nggak stres, ya worth it. Belajar sendiri murah tapi kalau tiap malam berantem sama anak, ya sebenarnya mahal juga.
Soal Konsistensi, Ini yang Sering Dilupakan
Ini pengalaman pribadi gue yang mungkin nggak semua orang setuju. Belajar sendiri itu gampang dimulai, susah dijaga. Hari pertama semangat, hari ketiga mulai molor, minggu kedua sudah skip karena "ah nanti aja". Namanya juga orang tua yang pulang kerja sudah capek.
Les punya keunggulan di sini: ada jadwal yang mengikat. Anak tahu hari Selasa jam 4 harus belajar, dan ada orang lain yang menagih. Buat keluarga kota yang hidupnya serba mepet waktu, jadwal eksternal ini kadang justru penyelamat.
"Belajar sendiri butuh disiplin orang tua. Les butuh disiplin anak. Dua-duanya nggak otomatis jalan."
Kalau anak kamu tipenya gampang terdistraksi dan orang tua nggak punya waktu konsisten mendampingi, les kemungkinan besar lebih efektif. Tapi kalau anak sudah punya kebiasaan belajar sendiri dan orang tua bisa rutin nemenin, belajar mandiri bisa jauh lebih hemat dan fleksibel.
Hasil Akhirnya Tergantung Kecocokan, Bukan Harga
Kami sempat bayar les mahal buat anak kami, dan hasilnya biasa aja karena anaknya nggak nyaman sama pengajarnya. Setelah ganti ke belajar sendiri dengan buku dan video, nilainya justru naik. Tapi jangan langsung simpulkan belajar sendiri lebih baik — karena di semester berikutnya, belajar sendiri malah bikin kami kewalahan dan akhirnya balik lagi ke les kelompok yang lebih murah.
Intinya, nggak ada jawaban tunggal. Yang bisa kamu lakukan:
- Coba dulu 1 bulan les kelompok yang harganya masuk akal, lihat respons anak.
- Bandingkan dengan 1 bulan belajar sendiri di rumah, catat apakah konsisten atau malah kacau.
- Lihat hasilnya bukan dari nilai saja, tapi dari mood anak dan stres orang tua.
- Jangan malu ganti arah kalau ternyata pilihan pertama nggak cocok.
Kapan Sebaiknya Pilih Les?
Pilih les kalau anak butuh pendampingan intensif di satu pelajaran tertentu, orang tua nggak punya waktu rutin mendampingi, atau anak justru lebih fokus saat diajar orang lain. Les juga masuk akal buat persiapan ujian yang butuh latihan soal terstruktur.
Kapan Belajar Sendiri Lebih Masuk Akal?
Belajar sendiri lebih pas kalau anak sudah punya kemauan kuat, orang tua bisa konsisten nemenin, dan budget keluarga sedang ketat. Ini juga bagus buat melatih kemandirian sejak dini — sesuatu yang nggak bisa dibeli dari les mana pun.
Buat keluarga kecil di kota besar, keputusan ini sebenarnya bukan soal mana yang lebih bagus secara umum. Ini soal mana yang cocok dengan ritme hidup keluarga kamu. Kami sendiri akhirnya pakai kombinasi: les kelompok seminggu sekali buat pelajaran yang susah, sisanya belajar sendiri dengan jadwal yang kami tempel di kulkas.
Nggak ada yang salah dari dua pilihan itu. Yang salah cuma satu: ikut-ikutan pilihan tetangga tanpa pernah nyoba dan ngecek sendiri apa yang cocok buat anak dan dompet kamu.